Tips Mengatasi Perut Gendut

Halo ensiklopedia lover, bagaimana kabarnya hari ini?? semoga selalu sehat ya....Oh iya, belakangan ini, penulis mengalami masalah kesehatan, bukan sakit melainkan otot perut yang terlalu berlebih alias gendut (aka: buncit) :D.
Mungkin ada diantara kita atau bahkan banyak diantara kita mengalami hal yang serupa. Ternyata, perut yang gendut itu bukan tanda orang yang sehat lo sobat, didalam perut yang gendut terdapat banyak sekali bibit penyakit. 
 Hal sederhana yang dialami penulis ketika mengalami perut gendut adalah susahnya beraktifitas. Gampang capek, mudah keringetan dan yang paling menyedihkan adalah ketika buang air besar yang beberapa menit saja bagi yang mempunyai perut gendut aka buncit itu sangat menyiksa. Disini, penulis coba praktekan beberapa senam sederhana yang bisa kita lakukan dimana saja (tapi liat tempat juga ya, masa dipasar mau senam gini). 

Agar lebih mudah dipahami, coba kita liat beberapa gambar ini.

  Pada gambar disamping kiri, kita liat:
1. Kita berbaring dilantai yang datar,
2. Angkat kaki setinggi-tingginya, menyerupai hurup C (pada gambar a)
3. Turunkan pinggul, terus kaki diserong ke kanan 
4. Ikuti langkah langkah pada gambar ya.

Tidak jauh bedanya dengan gerakan sebelumnya, gerakan berikutnya tampak pada gambar, fungsi dari gerakan ini adalah untuk menghilangkan lemak-lemak yang berada di posisi perut bagian samping. Gimana sobat ensiklopedi? mudah bukan... 









Untuk gerakan berikutnya adalah gerakan yang menurut penulis anggap paling kerasa effectnya, yap gerakan setengah sit up ini cukup manjur untuk membakar dan mengempiskan perut yang buncit. 


So, bagaimana sobat ensiklopedia? kapan mau mulai senamnya?? hehe, semoga bermanfaat ya, eh iya bagi yang suka streaming, berikut panduan lengkapnya ya,





Cek this out:



Sampah Hati

Selamat berjumapa kembali sahabat ensiklopedia harian, kali ini ada artikel yang bagus sekali. Penulis sengaja kutip dari guru penulis untuk dibagikan kepada teman-teman semua.

Seorang laki-laki yg berbeda paham dengan seorang Guru mengeluarkan kecaman dan kata-kata kasar, meluapkan kebenciannya kepada Sang Guru.
Sang Guru hanya diam, mendengarkannya dengan sabar, tenang dan tidak berkata apa pun.
Setelah lelaki tersebut pergi, si murid yg melihat peristiwa itu dengan penasaran bertanya, _"mengapa Guru diam saja tidak membalas makian lelaki tersebut?"_
Beberapa saat kemudian, maka Sang Guru bertanya kepada si murid,
_“Jika seseorang memberimu sesuatu, tapi kamu tidak mau menerimanya, lalu menjadi milik siapa kah pemberian itu?”_
_“Tentu saja menjadi milik si pemberi”_, jawab si murid.
_“Begitu pula dengan kata-kata kasar itu”,_ tukas Sang Guru.
_“Karena aku tidak mau menerima kata-kata itu, maka kata-kata tadi akan kembali menjadi miliknya. Dia harus menyimpannya sendiri. Dia tidak menyadari, karena nanti dia harus menanggung akibatnya di dunia atau pun akhirat ; karena energi negatif yg muncul dari pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan hanya akan membuahkan penderitaan hidup”._
Kemudian, lanjut Sang Guru, _” Sama seperti orang yg ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri. Demikian halnya, jika di luar sana ada orang yg marah-marah kepadamu ... biarkan saja … karena mereka sedang membuang SAMPAH HATI mereka. Jika engkau diam saja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka sendiri, tetapi kalau engkau tanggapi, berarti engkau menerima sampah itu.”_
_“Hari ini begitu banyak orang di jalanan yg hidup dengan membawa sampah di hatinya ( sampah kekesalan, sampah amarah, sampah kebencian,Egois dan lainnya )… maka jadilah kita orang yg BIJAK”_
Sang Guru melanjutkan nasehatnya :
_“Jika engkau tak mungkin memberi, janganlah mengambil”_
_“Jika engkau terlalu sulit untuk mengasihi, janganlah membenci”_
_“Jika engkau tak dapat menghibur orang lain, janganlah membuatnya sedih”_
_“Jika engkau tak bisa memuji, janganlah menghujat”_
_“Jika engkau tak dapat menghargai, janganlah menghina”_
_“Jika engkau tak suka bersahabat, janganlah bermusuhan”_
Saudaraku...
Inilah saatnya - setelah ditraining di bulan yg mulia selama sebulan - kita melatih diri untuk membuang semua sampah/Ego yg ada di hati kita ...
Marilah kita renungkan untuk diri kita masing-masing : mampukah kita mengikuti nasehat dan meneladani kebijakan Sang Guru ... ?
*******
* *Sebaik baik Manusia adalah yg berguna bagi Orang Lain*

sumber: Aa Gym

Semoga bermanfaat ya sahabat semua, eh iyaaa sekedar informasi juga ini ada tausiah bagus banget buat kita semua. Silahkan disimak juga ya.

Koin Penyok Nan Usang

Halo sahabat ensiklopedia harian lover, bagaimana kabarnya? semoga sehat selalu ya,,,,kali ini kita coba berbagi kisah mengenai sesuatu yang bermanfaat. Mari kita coba simak kisah berikut.
Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.

Ia membungkuk & menggerutu kecewa. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok usang lagi".
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. "Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno", kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai Rp.500 ribu.
Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga Rp. 500 ribu untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari Rp. 2 juta untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.
Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu & menawarnya Rp. 10 juta Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi Rp. 15 juta. Lelaki itupun setuju.
Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai Rp. 15 juta.
Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya,
"Apa yang terjadi?"
"Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil perampok tadi?"
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".
Bila kita sadar, kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang & pergi kita tidak membawa apa-apa.
Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.
Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini?
Tidak ada, karena bahkan napas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.
Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah.
Saat kehilangan sesuatu, kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa. Jadi "kehilangan" itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan. Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke"aku"an. Ke"aku"an itulah yang membuat kita menderita.
Rumahku, hartaku, istriku, suami ku, anakku. Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak bawa apa-apa dan tidak ngajak siapa-siapa.
Pada waktunya "let it go", siapapun yang bisa MELEPAS, tidak melekat, tidak menggenggam erat, maka dia akan BAHAGIA

Semoga sahabat ensiklopedia bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah tadi. 

Mengenai Keikhlasan

Malam semua ensiklopedia harian lover, sedikit berkisah tentang sesuatu hal di malam yang diiringi hujan berderu. Mengenai tentang keikhlasan, apa arti ikhlas menurut teman semuanya? hmm. . .ada seorang sahabat menggambarkannya seperti berikut.

Ikhlas itu… menentukan diterima atau tidak diterimanya aktivitas kita sebagai ibadah,
Karenanya pastikan ia senantiasa menyertai setiap aktivitas kita .


🔸Ikhlas itu…. Ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.
🔸 Ikhlas itu… Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.
🔸 Ikhlas itu… Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.
🔸 Ikhlas itu… Ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka.
🔸 Ikhlas itu… Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah.
🔸 Ikhlas itu… ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.
🔸 Ikhlas itu.. ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan.
🔸 Ikhlas itu… ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu enggan bekerja..
🔸 Ikhlas itu… ketika khilaf mendorongmu minta maaf, ketika salah mendorongmu berbenah, ketika ketinggalan mendorongmu mempercepat kecepatan.
🔸 Ikhlas itu… ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohanmu terhadapnya, ketika kedzalimannya terhadapmu, tidak kau balas dengan kedzalimanmu terhadapnya.
🔸 Ikhlas itu… ketika kau bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah, kau hadapi kata kasar dengan
jiwa besar, ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta.
🔸 Ikhlas itu…. Gampang diucapkan, sulit diterapkan….. namun tidak mustahil diusahakan….
🔸 Ikhlas itu… Seperti surat Al Ikhlas.. Tak ada kata ikhlas di dalamnya…
Tidak perlu puja puji yang bisa membutakan hati…
Inget… Tetap cari muka di depan Allah saja..
.
So....sudah se ikhlas apa kita??? hanya kita yang bisa menjawabnya. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang selalu lebih baik setiap harinya. Ammiiiin...

Salam, ensiklopedia

Perbanyak Saksi di Akhirat Kelak

Bagaimana kabarnya ensiklopedia lover??? semoga sehat selalu ya. Tidak berasa kita sudah berada dibulan Rajab, bulan dimana salah satu bulan yang diagungkan oleh Allah SWT. Semoda kita selalu istiqomah dalam hal-hal kebaikan ya. Kali ini kita akan mengutif dari guru saya, guru besar kita semua. Yang kajian kali ini bagus sekali, makanya saya coba bagikan kepada ensiklopedia lover semua.

Saudaraku, mengapa setiap kita akan sholat sunnah rowatib, kita dianjurkan untuk berpindah tempat sholat? Salah satu hikmahnya adalah supaya semakin banyak ‘saksi’ atas ibadah yang kita lakukan. Lantai masjid atau karpet masjid atau sajadah yang kita jadikan alas untuk sholat, kelak di akhirat akan menjadi saksi di hadapan Alloh Swt. atas apa-apa yang telah kita kerjakan. Maasyaa Alloh.
Oleh karena itu, sebenarnya sangat rugi bagi orang-orang yang beramal sembari sibuk mencari-cari orang lain supaya amalnya terlihat, terdengar dan mendapat pujian. Sungguh sia-sia energi yang telah ia keluarkan ketika ia beramal sedangkan yang ia cari adalah penilaian makhluk. Padahal, tanpa ia sibuk mencari perhatian makhluk agar menyaksikan dia, tanah yang ia pijak, baju yang ia kenakan, kendaraan yang ia gunakan dan segala apapun yang ia pakai ketika beramal sholeh, kelak akan bersaksi di hadapan Alloh Swt.
Lebih baik kita sibut memperbanyak saksi di akhirat kelak dengan memperbanyak ibadah dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Alloh Swt. Tidak perlu risau dengan penilaian makhluk, karena yang patut kita risaukan adalah jika tidak ada ikhlas di hati kita, jika ada debu-debu kesombongan di hati kita. Yakinlah bahwa Alloh Maha Mengetahui setiap segala sesuatu yang kita kerjakan, dan Alloh Maha Kuasa meminta persaksian dari tangan, kaki dan bumi ini atas segala apa yang kita perbuat.
Semoga di akhirat nanti kita termasuk orang-orang yang mendapat lebih banyak kesaksian atas ketaatan kita kepada Alloh Swt. ketimbang kesaksian atas kemaksiatan kita. Sehingga kita menjadi orang-orang yang selamat hidup di akhirat. Aamiin yaa Robbal’aalamiin.


Semoga kita selalu menjadi pribadi yang selalu mengingatkan dalam setiap kebaikan. So stay tune at ensiklopedia harian.

sumber: Aa Gym at smstauhid.com

Ketika ada “badai”, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

image source skotcher.com republish by ensiklopedia-harian.net
Selamat berjumpa kembali ensiklopedia lover, kali ini kita sedikit bercerita tentang kehidupan. Ya, sesuai dengan judulnya. Pernah suatu ketika penulis melakukan perjalanan lumayan cukup jauh ke daerah Puncak. Bersama ayah, ibu, serta adik saya tentunya. Perjalanan kami lancar dan menyenangkan sekali, tanpa ada gangguan sedikit pun. Pada saat itu saya duduk disamping ayah saya yang sedang menyetir, ibu dan adik saya duduk di shaf kedua sedang asyik melihat pemandangan sambil mengobrol santai. 
Memasuki daerah puncak, terjadi badai yang cukup mengganggu pandangan. Disertai dengan kilatan menyambar (daerah puncak merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan petir terbanyak). Sontak membuat saya, ibu dan adik saya menjadi takut, was was dengan keadaan yang sebelumnya cerah dan bersahabat, tiba-tiba menjadi tidak bersahabat bagi kebanyakan orang. Pengendara lain banyak yang menepikan kendaraannya, namun ayah saya terus menjalankan kendaraanya secara perlahan. Tak berapa lama, saya melihat ke belakang kendaraan yang menepi tadi tertimpa pohon yang rebah akibat tiupan angin yang cukup kencang.
“Yah, kenapa tidak menepi dulu?” “Badainya semakin besar” Tanyaku sambil memegang lengan ayahku pada stir. 
“Kita jalan pelan pelan dulu aja ya, jangan menepi disini tidak ada tempat perlindungan” jawab ayah saya dengan tenang. 
Benar ternyata, hujan semakin besar disertai dengan angin yang bertiup kencang, banyak kendaraan yang kami temui menepi dipinggiran jalan. Namun, kendaraan kami tetap maju perlahan. Terlihat di kaca spion kiri beberapa kendaraan banyak yang tertipa pepohonan yang tumbang akibat badai tersebut. Kendaraan kami terus melaju meskipun pelan, saya semakin gelisah, namun ayah saya tetap tenang mengendarai kendaraannya. Tidak berapa lama, badaipun reda (daerah yang hujan lebat dan angin kencang sudah terlewati) cuacanya pun mulai terang dan matahari pun kembali bersinar di balik awan. Kemudian ayah saya memarkir kendaraannya di sebuah warung warga, untuk sekedar beristirahat sambil memesan segelas kopi panas. 
 “Nak, hidup ini seperti badai yang kita lewati tadi” ayahku membuka percakapan.
 “Lho, kok bisa yah?” tanyaku heran. 
“Dalam hidup ini, pasti kita menghadapi masalah, mulai dari yang ringan sampai yang rumit sekalipun. Kita tidak bisa menolaknya dan jangan sesekali berhenti ditengah badai, kita bisa hancur dalam cobaan atau masalah tersebut, seperti mobil yang tertimpa pohon tadi karena berhenti di tengah badai. Dan jangan juga untuk berputar balik, engkau tidak akan pernah sampai pada tujuanmu jika seperti itu. Yang harus kamu lakukan adalah terus melaju kedepan meskipun itu perlahan, InsyaAllah engkau pasti menemukan ujung dari badai tersebut dan sampai pada tujuanmu itu.” 
“Oh gitu ya Yah” sahutku sambil menganggukan kepala, meskipun saya kurang begitu paham waktu itu. 
Namun sekarang saya paham dengan baik maksud dari ayah saya tersebut dan sangat bermanfaat sekali petuahnya hingga saat ini. Terima kasih Ayah.
 Sahabat ensiklopedia lover, semoga bisa mengambil hikmah dan manfaat dari cerita tadi. Mari kita selalu tebar kebaikan dimanapun kita berada. Stay tuned at ensiklopedia-harian.net and dont forget to like and subscribes. :D untuk mendapatkan info dan cerita menarik lainnya.